Sakban Rosidi
Sebuah riset terbaru mengungkapkan bahwa anak-anak berusia delapan sampai 15 tahun cenderung rentan menyalahgunakan smartphone. Mereka menggunakan ponsel canggih ini untuk menjelajahi situs web yang isinya berbau kekerasan ataupun pornografi. (http://health.kompas.com/read/2012/01/31/13560242/Pakai.Smartphone.Anak.Cenderung.Akses.Situs.Porno)
Juga ketika saya hanya berbekal dua kata kunci “mesum” dan “kompas”, saya mendapati lima judul berita, yaitu: (1) Video Pesta Seks Pelajar Beredar di Gunung Kidul, (2) Pelaku Video Mesum Terancam 15 Tahun, (3) Warga Merusak Rumah Pelaku Video Mesum, (4) Gunakan UU PA bagi Kasus Video Mesum, (4) Video Mesum Hutan Pinus Gegerkan Majenang, dan (5) Video Mesum Gegerkan Malang!
Kalau ditambahkan beberapa kata kunci lagi, saya merasa pasti akan lebih banyak lagi kejadian terberitakan. Berasumsi fenomenologis, bahwa perbuatan perbuatan manusia tindakan manusia dibentuk oleh pemaknaannya terhadap kenyataan atau dunianya, sambil mawas diri, kita perlu bertanya tentang asal muasal pikiran mesum.
Apa sebenarnya yang bersemayam dalam pikiran manusia bila ia terlahir tanpa piranti pengindraan (sense)sama sekali? Sederhana. Karena seluruh rangsang mentah (distal stimuli) masuk ke dalam pikiran melalui indra, maka tanpa indra, pikiran manusia pun akan sama sekali kosong. Dari hasil pengindraan manusia memiliki bayangan atas kenyataan (noumena), yang karena pencitraan itu tak pernah persis dengan kenyataan, maka sebutan yang kemudian diberikan adalah fenomena (phe-noumena) yang berarti citra akan kenyataan. Kalau dalam lapangan filsafat disebut fenomena, maka dalam psikologi kognitif proses pembentukan dan penyimpanan citra akan kenyataan ini disebut persepsi.
Sekumpulan persepsi yang memiliki kesamaan diberi sebutan, sehingga membentuk semacam konsep beserta maknanya. Konsep-konsep beserta maknanya ini kemudian tidak saja dapat dipikirkan dan dicari tali-temalinya satu dengan yang lain, tetapi juga ikut membentuk tindakan individu tersebut. Seturut itu, berkembang sebutan kajian fenomenologi tindakan manusia. Artinya, tindakan manusia dibentuk oleh pemaknaannya terhadap kenyataan atau dunianya. Karena itu, setiap tindakan (action) niscaya punya makna dan tujuan. Tentu ini berbeda dari sekedar perilaku (behavior) yang boleh saja tidak bermakna dan tidak bertujuan.
Walaupun bisa saja seorang manusia tidak menyadarinya, sebenarnya rangkaian tindakan manusia bermula dari: pengindraan (sensation), menuju pemahaman (perception), selanjutnya pemaknaan dan perenungan (cognition and reflection), perasaan dan dorongan (affection and motivation), dan kemudian tindakan (action).
Mudah dipahami, bahwa suatu rangsang, baik tak disengaja (stimuli) maupun disengaja (stimulation) akan menentukan pemahaman, pemaknaan, perasaan dan dorongan, hingga tindakan. Tanpa rangsang dari luar, pikiran manusia tidak bisa secara otonom menghasilkan (self-generating) sesuatu. Karena itu, apakah pikiran seseorang mesum atau santun, sebenarnya bergantung pada sifat dasar rangsang dan proses dalam pikiran.
Tak ada kesimpulan lain, manusia adalah makhluk belajar. Kejahatan maupun kebaikan, semuanya merupakan hasil belajar. Belajar itu sendiri berlangsung melalui pengindraan, pemikiran, hingga kemudian kecenderungan tindakan. Karena itu, melubernya rangsang bermuatan kemesuman juga melahirkan manusia-manusia berorientasi kemesuman. Melubernya rangsang bermuatan kejahatan, juga membantu tumbuh-kembang manusia-manusia berpikiran jahat. Bila sudah demikian, sejalan sifat dasarnya, manusia akan mencari pembenaran atas pilihan orientasinya.
Pikiran manusia menyerupai piranti pemerolehan bahasa (language acquisition device). Sesiapa pun yang dilarutkan dalam masyarakat penutur bahasa Inggris, dia pun akan cakap berbahasa Inggris. Tetapi, bila dia tidak pernah sama sekali bergaul dengan makhluk berbahasa, maka dia pun tidak akan bisa berbahasa.
Kalau kita sepakat bahwa tindakan manusia dibimbing oleh pikiran dan perasaannya, tetap harus diingat bahwa pikiran dan perasaan itu tidak pernah muncul tanpa rangsang melalui indera. Karena itu, upaya memperbaiki tindakan manusia, seturut logika tersebut, harus dimulai dengan menata lingkungan agar menyediakan rangsang mentah berkemuliaan dan berkesantunan.
Tak ada keraguan. Pendidikan seks dan kesehatan reproduksi memang penting. Sesiapa pun perlu pendidikan seks dan kesehatan reproduksi. Tetapi juga harus diperhatikan bahwa tidak ada bukti empirik bahwa pendidikan seks dan kesehatan reproduksi mampu menghentikan perilaku seks di luar nikah, melainkan sekedar melakukan seks secara sehat dan terhindar dari kehamilan di luar nikah.
Karena itu, berikanlah anak-anak muda — baik anak biologis maupun anak sosiologis — segala rangsang yang membimbing mereka berbudi-pekerti, berkepandaian, dan berketrampilan. Segala norma, baik tertulis maupun tidak tertulis, bersanksi maupun berkonsekuensi, harus dilembagakan dengan tujuan menyediakan rangsang yang diperlukan untuk tujuan tersebut.
Kita tidak bisa begitu saja menyalahkan pikiran mesum dan kotor kaum muda — ya kaum dewasa juga — , apabila memang lingkungan mereka menyediakan rangsang mesum, sedangkan kaum muda usia juga memiliki piranti penyalin dan pengunduh apa pun bentuk rangsang mesum.
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar