Rabu, 28 Maret 2012

Gaya Hidup Anak Sekolahan: Hobi Jepret dan Dijepret


1330035453316877266
Coba saja cek akun-akun para remaja setingkat usia putih biru, putih abu-abu, hingga putih merah pun tak ketinggalan meski skalanya tak sebesar tingkat diatasnya. Baik itu di facebook, twitter, atau blog yang mereka miliki dan masuklah kebagian penyimpanan foto atau file yang mereka miliki maka akan ditemukan ratusan foto narsis mereka atau setidaknya ada puluhan, berpose seorang diri atau bersama teman dengan macam-macam gaya yang unik hingga norak.
Foto-foto tersebut bersifat dibagikan untuk publik atau dapat dilihat sekurang-kurangnya oleh teman/para sahabat. Mereka akan senang sekali berekspresi disana dalam bentuk foto. Kata “hunting” tidak lagi asing bagi mereka, membentuk komunitasnya sendiri dan berkreasi. Mendadak hobi jepret dan dijepret merebak dikalangan anak sekolahan, kamera adalah hal pokok atau sesuatu yang penting lainnya diluar pencapaian prestasi dipelajaran.
Anak sekolahan membawa kamera yang harga dan mereknya lumayan “wah” ke sekolah dan tidak mengenal time khusus adalah hal yang biasa dijumpai saat ini. Kapanpun, dimanapun, dan dalam setiap momen apapun sedapat mungkin dapat diabadikan dengan kamera dan tertuang dalam bentuk foto.
Sebelumnya, isi tas anak sekolahan itu hanya perlengkapan alat tulis juga buku pelajaran. Kini sesuatu yang termasuk barang mewah seperti kamera digital yang berbagai macam tipe dan merek juga harga yang “wah” tadi adalah juga termasuk sesuatu yang tidak dapat lepas dari mereka. Memang, tidak selalu pada jam sekolah mereka mengkreasikan hobi jepret dan dijepret. Tidak jarang mereka yang biasanya sudah tergabung dalam komunitasnya sendiri menjadwalkan waktu diluar sekolah untuk sekedar hunting foto.
Ini semacam hobi yang menular atau fenomena hampir rata-rata dilakoni oleh anak sekolahan. Bertanya didalam hati, hobi jepret dan dijepret ini apakah cenderung ikut-ikutan agar supaya tidak dikatakan “gak gaul gila” dan penunjukan kenarsisan diri ataukah memang dari dasar diri si anak itu memiliki bakat keingin tahuan menyelami seluk beluk dunia fotografi. Ini pun mungkin adalah sesuatu yang lahir dari dampak perkembangan kemajuan teknologi itu sendiri dan kehidupan yang bersifat global dengan hadirnya internet serta yang memfasilitasinya (jejaring sosial). Tentunya adalah sesuatu yang membanggakan jika itu benar-benar dijalani dengan sungguh-sungguh dan mendatangkan positif bagi mereka.
Antara menjalankan hobi dan mengingat tugas utama pokoknya sebagai seorang pelajar harusnya dapat berlaku seimbang. Peran orangtua sangat dibutuhkan juga guru dan orang dilingkungan sekitar si anak dalam membimbingnya untuk menggali potensi yang ada didalam dirinya. Diharapkan hobi yang ada menjadi pendukung dalam memberi semangat juga inspirasi bagi perkembangan diri si anak dan sekolahnya serta bukan malah menjadi membuat si anak hidup dalam gaya ikut-ikutan dan cenderung hanya untuk pemuasan diri dan penunjukan hidup yang eksis tanpa kendali atau arah tujuan yang jelas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar